
FILM indie asal Tiongkok berjudul Dear You yang menggunakan dialek Teochew populer saat diputar di sejumlah negara Asia Tengara. Dialek Teochew merupakan ragam dialek Tionghoa yang berasal dari wilayah Chaoshan di Provinsi Guangdong, China bagian selatan.
Dialek ini banyak digunakan oleh komunitas Tionghoa di Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia, Kamboja dan Vietnam. Dalam film Dear You, dialek tersebut digunakan oleh tokoh nenek.
“Dialek Teochew yang digunakan tokoh nenek dalam film ini juga sangat mirip dengan bahasa Teochew yang kami gunakan, jadi rasanya sangat mengena. Banyak penonton menangis saat menonton film ini dan tidak sedikit pula anak muda yang datang bersama orang tua atau kakek-nenek mereka,” ujar CEO jaringan bioskop Golden Village Singapura Jiang Wenmei, Selasa (30/6).
Film Dear You aslinya memiliki judul berbahasa Mandarin “Gei A Ma de Qing Shu” yang mengandung arti Surat Cinta untuk Nenek itu mulai diputar di bioskop-bioskop Singapura, Brunei dan Malaysia dan juga Hong Kong serta Makau pada 18 Juni. Adapun penanyangan perdananya 18 Mei 2026 di Tiongkok.
Film ini mendapatkan untung sebesar USD7,3 setelah rilis di Singapura atau sekitar Rp95 miliar. Itu menjadikan film Dear You menjadi salah satu film berbahaya Mandarin terlaris. Di Malaysia, film itu sudah diputar di lebih dari 100 bioskop dengan total lebih dari 550 jadwal pemutaran per hari dengan pendapatan 5,8 juta ringgit atau sekitar Rp22 miliar.
“Lansia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah masuk bioskop, akhirnya datang untuk menonton film ini, karena film ini berhasil mengangkat kisah-kisah yang dulu sering diceritakan oleh generasi kakek dan nenek kita,” kata Direktur Eksekutif Mega Films Distribution Toh Jin Jiang, distributor film tersebut di Malaysia.
Sinopsis Film Dear You
Film Dear You mengangkat kisah seorang nenek asal Teochew bernama Ye Shurou yang hampir sepanjang hidupnya menunggu kabar dari sang suami. Mereka berpisah karena suaminya merantau ke Tailan. Cucu mereka Xiaowei, akhirnya memutuskan pergi ke Tailan untuk mencari kakeknya, Zheng Musheng.
Saat di Tailan, Xiaowei menemukan fakta bahwa selama puluhan tahun orang mengirimkan surat pada neneknya bukan kakeknya, melainkan seorang perempuan yang tidak dikenal, Xie Nanzhi karena Zheng Musheng sudah lama meninggal dunia. Zheng Musheng awalnya pergi ke Tailan untuk mencari nafkah dan rutin mengirim surat dan uang kepada keluarganya di Tiongkok, sayangnya ia mengalami musibah di Thailand dan meninggal pada 1960.
Nanzhi, putri pemilik penginapan tempat Musheng tinggal di Tailanpernah diselamatkan oleh Musheng, melanjutkan kebiasaan Musheng untuk menulis surat dan mengirim uang kepada Shurou.
Tradisi berkirim surat dan uang dari perantau Tiongkok kepada keluarga mereka di kampung halaman dilakukan terutama dari akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 disebut sebagai budaya Qiaopi.
Ini dilakukan tidak lewat pos ataupun bank, melainkan mempercayakannya pada orang. Dari sekitar 170 ribu dokumen Qiaopi, ada sekitar 160 ribu berasal dari Guangdong. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 ribu berasal dari daerah ‘Teochew’. Pada 2013, arsip Qiaopi masuk dalam “Memory of the World Register UNESCO” dan diakui sebagai bagian dari warisan dokumenter dunia.
Qiaopi tertua yang ditemukan para kolektor tercatat dikirim pada 26 Mei 1859 oleh Wen Xinde, seorang Tionghoa perantauan di Indonesia. Surat itu dikirim dari Batavia, menuju Meixian, provinsi Guangdong. Saat ini, dokumen tersebut disimpan di Hakka Museum of China, di Meizhou, Guangdong. (Ant/H-4)
