Pernah nggak kalian ngebayangin, suasana Subuh yang harusnya syahdu, penuh embun, dan cuma diisi suara burung berkicau, tiba-tiba berubah jadi studio syuting dadakan? Bayangkan seorang santri, mata masih agak sepet karena baru bangun tidur, tapi tangannya sudah lincah menyalakan lampu ring light mini, lalu merekam dirinya sedang melantunkan ayat suci. Semuanya dilakukan dengan kecepatan kilat, sebelum jamaah bubar. Apakah ini bentuk dakwah kekinian, atau jangan-jangan kita lagi terjebak dalam jebakan Batman yang lebih halus dari sutra?
Fenomena ini sebenarnya adalah cerminan dari apa yang pernah dibahas oleh filsuf kondang, Byung-Chul Han. Dia bilang, zaman sekarang kita nggak lagi dijajah sama penjajah bersenjata. Kita dijajah sama "kesenangan yang tersenyum". Ibaratnya, kita kayak lagi dikasih permen manis, tapi di dalam permen itu ada sistem yang pelan-pelan bikin kita jadi budak dari ekspektasi kita sendiri. Nah, pertanyaannya, apakah tembok pesantren yang selama ini jadi "benteng terakhir" ketenangan batin, sudah ikut tersenyum pada logika digital yang serba cepat ini?
Dulu Diawasi Kiai, Sekarang Diawasi ‘Sinterklas’ di Kepala Sendiri
Kalau kita balik ke masa lalu, kepatuhan itu punya bentuk yang jelas. Ada Kiai yang kalau natap aja, kita sudah langsung otomatis benerin posisi duduk. Ada aturan pondok yang kalau dilanggar, hukumannya bisa berupa jemur di lapangan atau disuruh baca kitab sampai hafal. Itu namanya pengawasan eksternal. Kita tahu kapan kita diawasi, dan kita tahu kapan kita bisa "napas lega" karena nggak ada yang lihat.
Dulu, ada sosok Malaikat Roqib Atid yang jadi pengingat paling sakral. Tapi sekarang, sosok "pengawas" itu sudah pindah alamat. Ibaratnya, kalau dulu kita takut sama Sinterklas yang bawa daftar siapa yang nakal dan siapa yang baik, sekarang Sinterklas itu sudah pindah ke dalam kepala kita masing-masing dalam bentuk algoritma media sosial.
Kita nggak perlu lagi disuruh orang lain buat jadi "santri teladan". Kita sendiri yang upload jadwal harian, pakai tagar #santrirajin, dan merasa harus tampil sempurna tiap detik. Kita jadi mandor bagi diri kita sendiri. Kalau konten kita nggak ramai, kita merasa gagal. Kalau kita nggak posting, kita merasa kurang saleh. Inilah yang disebut eksploitasi diri. Kita memeras tenaga sendiri, begadang demi bikin konten yang "estetik", dan merasa itu semua adalah bagian dari ibadah. Padahal, tubuh kita sebenarnya cuma lagi teriak minta istirahat.
Saat Ibadah Jadi Produk yang Harus Punya ‘Omzet’
Pernah lihat konten "hijrah" dengan filter warna pastel yang lembut banget? Zuhud, yang dulunya adalah laku spiritual untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi, sekarang justru sering dipajang sebagai produk gaya hidup. Tawadu atau rendah hati, yang dulu harusnya disembunyikan di ruang gelap supaya nggak riya, sekarang malah jadi konsumsi publik. Kalau nggak diposting, seolah-olah kebaikan itu nggak pernah terjadi.
Dunia digital memaksa kita buat memangkas ritual yang tadinya butuh waktu lama jadi cuma 15 detik durasi video TikTok atau Instagram Reels. Tirakat—yang dulu dijalani dengan puasa, doa, dan kesunyian—kini sering berakhir jadi judul konten. Ada semacam tekanan untuk "menjual" kesalehan supaya dianggap valid.
Ibarat toko kelontong yang dipaksa berubah jadi minimarket waralaba yang harus punya target penjualan bulanan, pesantren kini mulai dituntut buat punya "omzet" berupa jumlah pengikut dan viralitas. Padahal, ilmu itu dulunya seperti benih yang harus disiram setiap hari dengan sabar, bukan seperti bibit instan yang disuntik hormon biar cepat panen. Buat kalian yang pengen belajar lebih jauh soal gimana kita bisa bertahan di tengah arus informasi yang gila ini, mungkin bisa intip tips hidup tenang di era digital yang pernah saya bahas sebelumnya.
Psikopolitik: Ketika Mengeluh Dianggap Kurang Ikhlas
Di sini letak bahayanya. Psikopolitik adalah cara kekuasaan bekerja bukan lewat cambuk, tapi lewat perasaan. Kalau ada santri yang capek karena disuruh kerja bakti terus-menerus tanpa upah, lalu dia mengeluh, dia bakal langsung dibilang "kurang ikhlas" atau "kurang berkah".
Ini adalah cara yang paling licin untuk menutup ruang diskusi. Pertanyaan "kamu kerja karena Allah atau karena uang?" seringkali bukan jadi ajakan buat refleksi, tapi jadi senjata buat membungkam hak-hak dasar manusia. Akibatnya, banyak orang yang merasa tertindas, tapi mereka nggak bisa protes karena mereka merasa "salah sendiri" kalau protes.
Fenomena santripreneur atau santri digital sebenarnya punya sisi positif, tapi kalau sanad keilmuan yang harusnya lewat tatap mata dan kedekatan batin (transfer of knowledge) malah diganti sama sertifikat digital yang cuma dipajang di profil LinkedIn, ada esensi yang hilang. Ilmu yang dulunya dicari demi pencerahan, sekarang seringkali cuma dicari demi validasi.
Bukan Soal Anti-Zaman, Tapi Soal Mengembalikan Jarak
Apakah ini artinya kita harus buang semua HP dan lari ke hutan? Tentu nggak. Dunia sudah berubah, dan kita nggak bisa menutup mata dari kenyataan itu. Tapi, ada baiknya kita mulai belajar buat "menciptakan jarak" lagi.
Dulu, pesantren lahir justru sebagai tempat pelarian dari kolonialisme yang serba menghitung untung-rugi. Pesantren itu tempat di mana waktu seolah berhenti, supaya manusia punya ruang buat mengenal dirinya sendiri sebelum dikenal oleh pasar. Nah, sekarang tantangannya bukan lagi kolonialisme fisik, tapi kolonialisme algoritma.
Kita perlu pondok-pondok yang berani mematikan sinyal Wi-Fi di jam-jam tertentu, bukan buat menghukum, tapi buat mengembalikan "ruang sunyi". Kita butuh momen di mana kita bisa berbuat baik tanpa harus ada kamera yang merekam. Karena jujur saja, keberkahan itu nggak punya akun Instagram. Dia nggak butuh like, comment, atau share buat jadi nyata.
Penutup: Kembali ke Esensi, Bukan ke Sensasi
Tugas kita—baik sebagai santri, mahasiswa, atau pekerja kreatif—bukan untuk menolak teknologi. Itu mustahil. Tapi tugas kita adalah untuk nggak membiarkan alat pengukur keberhasilan kita disetir oleh angka-angka di layar.
Ingat, Sinterklas yang asli—atau dalam bahasa yang lebih religius, Sang Pencipta—nggak butuh feed yang estetik untuk mencatat kebaikan kita. Dia melihat apa yang kita lakukan di saat nggak ada satu orang pun yang melihat. Itu adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.
Jadi, buat kalian yang mungkin sekarang lagi ngerasa capek banget mengejar "target berkah" versi dunia digital, mungkin sekarang saatnya buat tarik napas dalam-dalam. Matikan notifikasi, taruh HP-mu, dan lakukan sesuatu yang benar-benar kamu nikmati tanpa harus difoto. Karena terkadang, hidup yang paling bermakna adalah hidup yang nggak perlu di-upload ke mana-mana. Yuk, kita mulai belajar buat hidup lebih organik dan bermakna mulai dari sekarang!
Ingat, kamu lebih berharga daripada jumlah follower atau view di kontenmu. Jangan biarkan dirimu jadi barang dagangan di pasar digital yang nggak pernah tidur. Tetaplah jadi manusia yang punya jeda, punya rahasia, dan punya kedalaman. Karena di dunia yang serba instan ini, menjadi "lambat" dan "jujur" adalah sebuah bentuk perlawanan yang paling elegan.
